Lagu religi meredup karena puasa bareng pilpres dan Piala Dunia?


MERDEKA.COM. Ada yang menarik pada tahun 2014 kali ini. Publik harus menemui beberapa seremoni hampir secara bersamaan dalam beberapa bulan terakhir.


Sebut saja dari Pemilihan Legislatif (Pileg) pada April lalu, kemudian Piala Dunia pada pertengahan Juni, dan terakhir pada awal Juli ada bulan Ramadan. Semuanya terasa datang secara serentak.


Namun dari beberapa momen di atas, tampaknya ada yang luput dari perhatian masyarakat, yakni hiburan pemanis yang biasanya dijumpai pada Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Ya, hal tersebut adalah lagu-lagu religi yang biasanya menghiasi layar kaca selama satu bulan penuh saat mayoritas masyarakat Indonesia menjalankan ibadah puasa.


Entah kenapa lagu religi kini hampir tak terdengar lagi gaungnya. Sebut saja pada tahun-tahun sebelumnya grup band pop nasional seperti Ungu, Gigi, Nidji, Cokelat, dan Wali merajai rating di televisi karena tembang-tembang maut religinya. Bahkan solois Opick selalu punya lagu favorit tiap bulan Ramadan datang.


Sebut saja misalnya Ungu pada tahun 2012 dengan single 'Dengan NafasMu', Gigi - 'Akhirnya', dan Wali 'Tomat (Tobat Maksiat)'. Hampir semua dari ketiga tembang itu selalu nongol di televisi bahkan radio sekalipun.


Lalu mengapa pada tahun ini lagu religi serasa meredup tak seperti dulu?


Pengamat musik kenamaan Bens Leo menilai musik religi pada tahun 2014 meredup karena masyarakat lebih fokus pada hajatan bola terbesar, yakni Piala Dunia. Namun kata dia, beberapa artis tetap membuat karya religi namun memang tak melakukan promo segencar tahun-tahun sebelumnya.


"Kalau saya lihat, beberapa temen tetep buat (lagu religi). Tapi terus terang memang sepertinya sedang ketutup dengan bola (Piala Dunia) ya," kata Bens kepada merdeka.com, Rabu (2/6) malam.


Bens menilai para seniman musik di Indonesia tak pernah berhenti untuk menelurkan karya religi saban Ramadan datang. Alasannya, pasar industri lagu religi selalu diminati lantaran masyarakat Indonesia mayoritas muslim dan momen itu hanya datang sekali dalam setahun.


Bahkan dia menyangkal jika musisi pada Ramadan kali ini jadi tak produktif gara-gara ada hajatan pesta demokrasi besar-besaran.


"Nggak juga mas (ketutup momen pilpres). Karena memang harus kita sadari industri musiknya kan memang lagi nggak bagus juga beberapa tahun ini. Beberapa temen tetep buat kok, Ungu tahun ini juga rilis lagi. Karena pangsa pasar masyarakat kita muslim. Mereka-mereka yang kreatif tentu nggak akan berhenti gitu saja," paparnya.


Sementara itu, menurut pengamat musik dari Yogyakarta, Tomo Widayat, menganggap jika tahun 2014 ini memang menyita perhatian lebih untuk para musisi. Menurut dia, pilpres juga salah satu faktor utama menurunnya produktivitas musisi untuk merilis tembang-tembang musiman religi.


"Hal yang paling mempengaruhi adalah hajatan lima tahunan pilpres yang cukup menyita perhatian publik. Ini sebenarnya juga sama terjadi juga pada pilpres yang terdahulu, banyak artis yang menunda rilis karya dan memilih menunggu sampai masa pemilu berakhir. Apalagi pada pilpres kali respons masyarakat begitu antusias dengan kedua calon pemimpinnya," kata Tomo saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.


Selain itu, menurut Tomo kegembiraan Piala Dunia juga memang menjadi kendala para musisi untuk membuat karya baru pada Ramadan kali ini. Sebab gegap gempita Piala Dunia bisa memecah konsentrasi dan hampir dirasakan seluruh masyarakat di dunia, tak hanya di Indonesia saja.


Berikutnya faktornya adalah para musisi yang pada tahun ini malah ikut terjun dalam politik praktis menjelang pilpres 9 Juli nanti. Para seniman musik sudah terang-terangan mengkampanyekan calon pemimpin baru ketimbang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Kali ini justru para musisi peduli memberikan sumbangsih kepada negara dengan memberikan pendidikan politik yang simpel kepada masyarakat.


"Berikutnya adalah euforia piala dunia juga memberikan pengaruh. Intinya adalah ada sesuatu yang besar yang sedang digelisahkan masyarakat luas, sehingga seluruh pikiran dan konsentrasi mereka tercurah di situ."


"Ada lagi soal pilpres. Sekarang musisi-musisi lebih memilih berkarya dengan membuat lagu politik ketimbang lagu religi. Mereka tahun ini ikut ambil peduli soal politik. Tak ada yang menggerakkan, semuanya kompak bareng-bareng lebih milih merayakan tahun politik daripada tahun-tahun sebelumnya," imbuh arranger yang sering membantu beberapa solois-solois Indonesia ini.


Topik hangat hari ini:

Pendukung Prabowo cabut gugatan UU Pilpres

Hubungan Mega-Prabowo retak setelah Pilgub DKI?

e-KTP diharapkan bisa atasi kisruh DPT pada Pilpres 2014

Unggul di polling Wall Street Journal, Prabowo disukai asing?

Like us on Facebook | Follow us on Twitter | Follow us on Google+


Sumber: Merdeka.com

Komentar