Malam 1 Suro, warga Kraton Yogya gelar Topo Bisu Mubeng Beteng


MERDEKA.COM. Kraton Yogyakarta menggelar lelakon topo bisu mubeng beteng untuk memperingati malam tahun baru jawa atau 1 suro 1948 yang jatuh pada hari ini, Sabtu (25/10). Ritual ini dilakukan dengan cara berjalan kaki mengeliling benteng Kraton dan tidak berbicara selama perjalanan.


Selain itu peserta juga berjalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Menurut sekretaris panitia topo bisu mubeng, KRT Wijoyo Pamungkas topo bisu ini sendiri merupakan ritual rutin yang bertujuan sebagai perenungan pergantian tahun.


"Tujuannya sebagai perenungan, apa saja yang sudah kita lakukan, sembari memanjatkan syukur serta doa agar kedepan bisa lebih baik lagi," kata Wijoyo, Sabtu (25/10).


Topo bisu mubeng beteng ini dimulai Jumat (24/10) pukul 21.00 Wib dengan diawali doa oleh abdi dalem Kraton Yogyakarta. Seusai doa, rombongan berjalan mengelilingi beteng atau benteng Kraton dengan urutan cucuk lampah Sang Saka Merah Putih, bendera gula kelapa, klebet Bangun Tolak (Yogya), klebet Mega Ngampak (Sleman), klebet Pareanom (Kulonprogo), klebet Pandan Binetot (Bantul), klebet Podang Ngisep Sari (Gunungkidul), barisan abdi dalem lalui diikuti masyarakat umum.


Para peserta topo bisu mubeng beteng berjalan dari alun-alun utara melalui jalan kauman, Jalan Wahid Hasyim, Pojok Beteng Kulon, Gading, Pojok Beteng Wetan, melalui Jalan Brigjen Katamso, menyusuri Jalan Ibu Ruswo, Jalan Pekapalan dan berakhir di Keben.

Acara diakhiri dengan grebeg dua buah gunungan di alun-alun utara. Grebeg gunungan ini merupakan bentuk ucapan syukur terhadap Yang Maha Kuasa atas berkah sepanjang tahun.


"Ini bentuk ucapan syukur sama seperti grebeg gunungan lainnya," ujar Wijoyo.


Topo bisu mubeng beteng ini pun mendapat partisipasi dari warga. Sedikitnya ratusan warga ikut berjalan kaki mengeliling benteng Kraton bersama dengan abdi dalem.


Salah satunya adalah Purnomo, warga Maguwo, Sleman yang sengaja meluangkan waktu untuk ikut topo bisu mubeng beteng. Menurutnya, dia ikut ritual tersebut semata-mata karena ingin ikut melestarikan kebudayaan.


"Sebagai orang Yogya ikut seperti ini sama saja melestarikan kebudayaan," kata Purnomo.


Sementara itu, Pungkas warga Gondomanan yang juga penganut aliran kepercayaan kejawen mengaku mengikuti topo bisu mubeng beteng untuk menenangkan diri. "Bagi saya ini ritual untuk mengingat dan merenungkan apa saja yang sudah dilakukan, kalau dihayati akan mendatangkan ketenangan batin," ujarnya.


Baca Berita Selanjutnya:

Aria Bima, Vicky Zhu dan sejumlah artis ikut kirab 1 Suro

Rawan tawuran antar pendekar, Polda Jatim amankan Suro Agung

Satu Suro, Keraton Solo akan kirab 11 pusaka & 9 kerbau bule

Malam 1 Suro, mistis atau mitos?

Like us on Facebook | Follow us on Twitter | Follow us on Google+


Sumber: Merdeka.com

Komentar